logo
logo icon

AiKnow

Mengoptimalkan Pengelolaan Biodiversity melalui Manajemen dan Monitoring HCV Biodiversity sebagai Tantangan Keberlanjutan Perusahaan

Mengapa HCV Assessment Saja Belum Cukup?

Banyak perusahaan telah melakukan High Conservation Value (HCV) Assessment, tetapi masih menghadapi penurunan kualitas kawasan HCV. Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya implementasi HCV Management and Monitoring Plan (HMMP).

Sebagai contoh, kawasan sempadan sungai yang telah ditetapkan sebagai HCV tetap mengalami degradasi akibat aktivitas operasional, perambahan, atau kebakaran. Pada kasus lain, populasi satwa dilindungi menurun karena perusahaan tidak memiliki sistem monitoring yang mampu mendeteksi perubahan kondisi habitat secara berkala. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada proses identifikasi HCV, tetapi juga pada efektivitas pengelolaan dan monitoring.

Menurut High Conservation Value Network (HCVN), HCV Assessment merupakan tahap awal dalam pengelolaan biodiversity. Setelah HCV diidentifikasi, perusahaan harus menyusun dan mengimplementasikan HCV Management and Monitoring Plan (HMMP) yang mencakup tujuan pengelolaan, tindakan konservasi, indikator monitoring, evaluasi hasil, serta penerapan adaptive management untuk memastikan nilai konservasi tetap terjaga.

Pendekatan ini menempatkan monitoring sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data (evidence-based management), sehingga strategi pengelolaan dapat disesuaikan apabila kondisi HCV mengalami perubahan.
Lalu banyak pertanyaan muncul, Bagaimana cara belajar Implementasi HMMP ?

Melalui Pelatihan Manajemen dan Monitoring Biodiversity, peserta akan mempelajari cara menyusun HCV Management and Monitoring Plan (HMMP); melaksanakan monitoring biodiversity; mengevaluasi efektivitas pengelolaan HCV berdasarkan hasil monitoring; menerapkan prinsip adaptive management sesuai pendekatan HCVN; dan mendukung pemenuhan persyaratan standar keberlanjutan seperti RSPO, IFC PS6, dan GRI 304.

Pelatihan dilaksanakan melalui kombinasi pembelajaran teori, studi kasus, diskusi, dan praktik lapangan sehingga peserta mampu menerapkan metode monitoring sesuai kebutuhan perusahaan.

Dengan kompetensi tersebut, perusahaan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan biodiversity, memenuhi tuntutan standar keberlanjutan, serta memastikan nilai konservasi tinggi tetap terpelihara sepanjang siklus operasional. Oleh karena itu, pengelolaan biodiversity menjadi bagian penting dalam penerapan prinsip keberlanjutan dan berbagai standar internasional, seperti RSPO, IFC Performance Standard 6 (PS6), GRI 304, dan TNFD.